Slide 1

Pemasangan Span Erection Box Girder Terakhir pada Jalan Tol Layang Andi Pangeran (AP) Pettarani, Jalan Tol Layang Pertama di Indonesia Timur


18 Mei 2020 |   Berita/Umum  |   381

Pemasangan Span Erection Box Girder Terakhir pada Jalan Tol Layang Andi Pangeran (AP) Pettarani, Jalan Tol Layang Pertama di Indonesia Timur

Jakarta - Pelaksanaan konstruksi Jalan Tol Ujung Pandang Seksi 3 atau dikenal sebagai Jalan Tol Layang Andi Pangeran (AP) Pettarani berada di Kota Makassar sepanjang 4,3 Km, saat ini telah memasuki tahap pemasangan span terakhir pekerjaan erection box girder (balok jembatan) dengan progres konstruksi secara keseluruhan mencapai 85%. Pembangunan Jalan Tol layang pertama di Indonesia Timur ini yang dibangun tanpa adanya pembebasan lahan dengan memanfaatkan median jalan nasional yang ditargetkan penyelesaian konstruksinya pada akhir tahun 2020 mendatang.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, Kementerian PUPR melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Bosowa Marga Nusantara selaku pengelola Jalan Tol A.P. Pettarani terus berupaya menyelesaikan pengerjaan konstruksinya dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan COVID-19. "Seperti menjaga jarak fisik, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan serta mengikuti Instruksi Menteri PUPR No 02/IN/M/2020 tentang Protokol Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi," ujar Menteri Basuki pada saat mengikuti seremonial secara virtual penyelesaian span terakhir pekerjaan erection box girder Proyek Jalan Tol Ujung Pandang Seksi lll (Jalan Tol Layang A.P. Pettarani, Makassar), pada Minggu (17/5/20).

Kepala BPJT Danang Parikesit juga mengatakan, pembangunan Jalan Tol Layang A.P. Pettarani di Kota Makassar dilakukan sebagai upaya untuk mengurai kemacetan lalu lintas, sekaligus berperan sebagai upaya meningkatkan konektivitas dan pemerataan pembangunan Jalan Tol di Indonesia yang lebih maju dan sejahtera, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

"Untuk pekerjaan konstruksi tetap berjalan sesuai dengan protokol COVID19. Juga pelaksanaan kerja konstruksi yang menjamin para pekerja untuk tetap memperoleh penghasilan, sehingga tetap memiliki daya beli untuk memutar perekonomian, dan tidak harus mudik serta tidak kehilangan pekerjaan," ujar Danang.

Direktur Utama PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) Anwar Toha juga mengatakan, dengan penerapan teknologi konstruksi terbaru span by span pada Jalan Tol Layang A.P. Pettarani sebagai terobosan dalam mempercepat pelaksanaan konstruksi dengan meminimalkan gangguan pada lalu-lintas eksisting. Diharapkan pengerjaan konstruksi dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan, sehingga Masyarakat Makassar dapat segera merasakan manfaat dari jalan tol layang ini.

Teknologi konstruksi yang digunakan PT Wijaya Karya Beton, Tbk selaku kontraktor pelaksana pada proyek Tol Layang A.P. Pettarani, menggunakan metode span by span dengan Launching Gantry sebagai  teknologi yang tergolong baru dalam pelaksanaan konstruksi jembatan. Teknologi ini sama dengan yang diterapkan pada proyek simpang susun Semanggi dan Jalan Tol Bogor Ring Road beberapa waktu lalu. 

Penggunaan metode span by span pada pembangunan Jalan Tol Layang pertama di Kota Makassar ini dinilai sangat efektif dan dapat menekan risiko gangguan kepadatan lalu lintas kendaraan di bawahnya, sehingga kendaraan tetap dapat melintas seperti biasa pada saat konstruksi berlangsung dengan tetap memperhatikan keselamatan pengguna jalan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Wijaya Karya Beton, Tbk Hadian Pramudita, menambahkan, pembangunan proyek Tol Layang A.P Pettarani terbagi atas 74 bentang pada jalan utama, 9 bentang pada Ramp On dan 7 bentang pada Ramp Off dengan jumlah box girder sebanyak 3.044. "Selama masa konstruksi kami melibatkan tidak kurang dari 1.000 pekerja pada pekerjaan kontruksi di proyek dan kurang lebih 300 orang pada produksi box girder di Pabrik Produk Beton milik PT Wijaya Karya Beton, Tbk yang berlokasi di Kawasan Industri KIMA 20 Makassar," tambahnya.

Proyek Jalan Tol Layang A.P. Pettarani yang dibangun menggunakan biaya investasi sebesar Rp 2,24 triliun pada median Jalan Nasional A.P Pettarani eksisting tanpa adanya pembebasan lahan, sebagai konektivitas dari dan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Pelabuhan Soekarno – Hatta dan rencana Makassar New Port, serta Pusat Kota Makassar. Kehadiran Jalan Tol ini juga sangat penting sebagai penunjang jalur logistik di Provinsi Sulawesi Selatan khususnya di kota Makassar dan sekitarnya. 

Jalan Tol Layang A.P. Pettarani yang telah dimulai pelaksanaan konstruksinya sejak tahun 2018, dimulai dari akhir Jalan Tol Seksi II, tepatnya di Persimpangan Jl. Urip Sumoharjo melewati Persimpangan Jl. Boulevard Panakkukang, Jl. Hertasning dan berakhir sebelum Persimpangan Jl. Sultan Alauddin. Dengan terhubungnya jalan tol AP Pettarani dengan jalan tol existing ini, maka seluruh ruas tol Seksi I – III direncanakan beroperasi dengan sistem terbuka dengan total panjang 10,4 Km dengan jumlah lajur jalan 2 x 2, lebar 3,50 meter, dan memiliki dua on-off ramp yaitu di Boulevard dan Alauddin. (BPJT/Dms)

SHARE: